Kamis, 26 Agustus 2010

Renungan utk ana & (Mungkin) Antum semua


Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang makruf dan mencegah dari yang munkar; merekalah orang-orang yang beruntung.
(Qs. Ali Imran 104)

Saudaraku dari ayat di atas jelaslah bahwa perintah ber’amar ma’ruf nahyi munkar tidak ditujukan kepada orang2 tertentu saja, tapi ditujukan/ diperintahkan kepada siapapun. Bahkan dalam tulisannya, Syaikh Hasan Al Banna rohimahulloh mengatakan “Kita adalah Da’I sebelum menjadi segala sesuatu”. Artinya gelar da’I sudah melekat pada diri kita sejak kita dilahirkan ke dunia ini, tidak lantas kita harus ikut organisasi dakwah dulu baru kita disebut da’I (aktivis da’wah), atau kita aktif menjadi anggota/ pengurus di wajihah yang konsen di bidang da’awi (LDK,Rohis,dll).
Saudaraku, ketika hari ini kita berbicara tentang da’I (diri kita) hari ini, setidaknya ada 10 sifat (muashofat) yang harus ada dalam diri kita, ketika belum adapun, kita harus berusaha untuk mencapainya, 10 muashofat tersebut adalah: 1) Salimul Aqidah (bersih aqidahnya); 2) Shahihul Ibadah (benar ibadahnya); 3) Matinul Khuluq (kokoh akhlaqnya); 4) Qadirun ‘alal kasbi (mampu berpenghasilan sendiri); 5) Mutsaqqaful Fikri (pemikirannya berwawasan); 6) Qawiyul Jismi (kuat fisiknya); 7) Mujahidun fi nafsihi (mampu mengendalikan diri); 8) Munazhamun fi su’unihi (terorganisir segala urusannya); 9) Harishun ‘ala waqtihi (cermat mengatur waktunya); 10) Naafi’un li ghairihi (Bermanfaat bagi selainnya).
Selain itu, ketika hari ini kita berbicara tentang da’wah maka kita tidak akan lepas dari sebuah jama’ah, kerena dalam jama’ah terdapat manhaj gerakan da’wah itu sendiri. Dalam sebuah jama’ah pasti akan ada manhaj gerakan, seorang Qodhi, bahasa kita mah ‘Qiyadah’ (Pemimpin/ pimpinan), dan Junud/ jundi (pasukan/ pengikut/ anggota,dsj lah…). Dan ketaatan dalam berjama’ah adalah suatu keniscayaan, karena tanpa ketaatan da’wah tidak akan bisa berjalan dengan efektif, da’wah tidak bisa terorganisir dengan baik, dan akan gamapang dikalahkan oleh kebathilan.
Saudaraku yg ana cintai karena Alloh, ketika kita sering mendiskusikan tentang da’wah, muashofat da’I, jama’ah, halaqoh/ liqo, BAGAIMANA DENGAN KONDISI RUHIYAH KITA hari ini??? SUDAHKAN KITA MEMENUHI HAK2 RUHIYAH KITA??? SADARKAH KITA bahwa ketika ketaatan terhadap jama’ah, ta’limat2, dauroh2, amanah2 kita, bahkan liqo yang harusnya jadi sumber charging kita sering kita abaikan akan berpengaruh terhadap RUHIYAH kita yang pada akhirnya akan berpengaruh juga terhadap amal yaumiyah kita dan terhadap kontribusi kita di lapangan???
Akhi Aktivis Da’wah, Jangan lah kita berharap lebih agar agenda2 da’wah selalu dihadiri oleh orang (mad’u) banyak, kalau kita sendiri sering mengabaikan dauroh2, ta’limat, qororot/ liqo kita! Jangan lah kita berharap lebih agar fikroh2 kita diadopsi orang (‘ammah) banyak, kalau kita sendiri jarang membaca buku tentang terbiyah, da’wah, harokah, dsj!! INGAT!!! Saking pentingnya kondisi kita, Sampai Ust. Fathi Yakan rahimahulloh menulis buku tentang “ROBOHNYA DA’WAH di TANGAN DA’I”, dan mari kita tafakuri perkataan Asy-Syahid Hasan Al-Banna “DAKWAH ini TIDAK MENGENAL sikap GANDA, ia HANYA MENGENAL satu sikap TOTALITAS. Siapa yang bersedia untuk itu, maka ia harus hidup bersama dakwah & dakwah pun melebur dlm dirinya. Sebaliknya, barang siapa yg LEMAH dalam MEMIKUL BEBAN ini, maka ia TERHALANG dari PAHALA BESAR MUJAHID & TERTINGGAL bersama orang yg duduk. Lalu ALLAH akan MENGGANTI mereka dgn GENERASI yg LEBIH BAIK & LEBIH SANGGUP MEMIKUL BEBAN ini”.
Astaghfirulloh wa Na’udzu billah…Hamba berlindung dari semua ini…
Smg ana dan kita semua tidak termasuk orang yang Alloh benci karena kita sering mengajak/ menyuruh orang lain dalam kebaikan tapi kita sendiri tidak mengerjakannya.

22 Agustus 2010, 11: 28 PM

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar